Senin, 28 Januari 2013

KLASIFIKASI USAHATANI KELOMPOK TANI HUTAN RAKYAT SEKARWANGI




4.1       Gambaran Umum Wilayah Praktek Kompetensi Profesi
4.1.1    Keadaan Geografi dan Demografi Desa
Desa Cirumput adalah salah satu desa di Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat yang berada pada ketinggian antara 600 sampai dengan 1050 meter dari permukaan laut (mdpl).
Jumlah penduduk Desa Cirumput7.001 jiwa yang terdiri dari jumlah penduduk laki-laki 3.566 jiwa dan jumlah perempuan 3.435 jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga 1.746 KK
Jarak Desa Cirumput dengan ibu kota Kabupaten Cianjur ±12 Km yang dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor selama ±45 menit. Sedangkan jarak dengan ibu kota Kecamatan ±7 Km yang dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor selama ±20 menit.
Adapun batas-batas wilayah desa Cirumput adalah sebagai berikut:
a.       Sebelah Utara        : Desa Talaga Kecamatan Cugenang
b.      Sebelah Selatan     : Desa Padaluyu Kecamatan Cugenang
c.       Sebelah Timur       : Desa Nagrak Kecamatan Cianjur
d.      Sebelah Barat        : Kebun Teh PTPN VIII Gedeh 2
Desa Cirumput terdiri dari 4 (Empat) Dusun, 5 (Lima) Rukun Warga(RW) dan 25 (Dua Puluh Lima) Rukun Tetangga (RT).



4.1.2    Luas Areal Desa Menurut Pemanfaatannya
Luas Desa Cirumputberada pada curah hujan 2500 - 3000 mm/Tahun, dengan suhu rata-rata 22° C (Dua Puluh Dua Derajat Celcius). Luas wilayah desa yaitu 374,2 Ha dengan rincian pada tabel 3 di bawah ini:

Tabel 3: Luas Areal Desa Cirumput Menurut Pemanfaatannya
No
Jenis Penggunaan Tanah
Jumlah (Ha)
Persen (%)
1
Luas Permukiman
40,0

10,70

2
Luas Persawahan
 156,2

41,74

3
Luas Perkebunan
172,0  

45,96

4
Luas Kuburan
5,1

1,36

5
Perkantoran
0,9

0,24

Total Luas
374,2

100,00

Sumber:Profil Desa CirumputTahun 2011/2012

Berdasrkan tabel di atas, luas areal perkebunan memiliki luas 172,0 Ha (45,96%) dan memiliki luas areal persawahan 156,2 Ha (41,74%) dari luas total wilayah Desa Cirumput 374,2 Ha. Hal ini memiliki potensi untuk usahatani pertanianyang dapat dilakukan oleh masyarakat yang ada di desa tersebut, ditambah dengan iklim yang cocok.

4.1.3    Jumlah Penduduk Desa Cirumput BerdasarkanMata Pencaharian
Mata pencaharian masyarakat di desa Cirumput sangat beragam, berbagai jenis pekerjaan yang berbeda, maka jumlah nominal yang didapatkan pun berbeda-beda, untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada gambar 2 di bawahdi bawah ini.
Sumber: Profil Desa Cirumput Tahun 2011/2012
Gambar 2: Grafik Jumlah Penduduk Desa Cirumput
Berdasarkan Mata Pencaharian


Berdasarkan profil Desa Cirumput 2011/2012 terdapat jumlah total penduduk Desa Cirumput berdasarkan mata pencaharian 4.162 orang. Jika kita lihat pada gambar di atas, dari jumlah total tersebut,profesi tenaga buruh (buruh petani, buruh perkebunan, dan buruh usaha pengelolaan hasil hutan) adalah jumlah paling tinggi yaitu 35% dari 11 profesi jenis mata pencaharian yang ada dengan pendapatan rata-rata per harinya tenaga buruh tersebut sekitar Rp.15.000,- sampai denganRp.20.000,- sedangkan masyarakat dengan mata pencaharian yang mapan dapat dihitung secara manual, hal inilah yang dapat menunjukan bahwa pendapatan masyarakat desa Cirumput masih terbilang rendah.

4.14     Jumlah Penduduk Desa Cirumput Berdasarkan Pendidikan
Tingkat pendidikan masyarakat mulai dari tidak tamat Sekolah Dasar sampai dengan tamat Perguruan Tinggi,lebih dominan jumlah penduduk yang tamat SD/sederajat. Untuk lebih jelasnya dapat kitalihat pada gambar 3 di bawah ini:

Sumber: Profil Desa CirumputTahun 2011/2012
Gambar 3: Grafik Jumlah Penduduk Desa Cirumput
Berdasarkan Pendidikan


Berdasarkan profil Desa Cirumput 2011/2012 terdapat jumlah total penduduk Desa Cirumput berdasarkan pendidikan 6.994 orang. Jika kita lihat pada gambar di atas, jumlah penduduk yang hanya tamat SD/Sederajat dari jumlah total tersebut adalah paling tinggi yaitu 57%.Hal ini menunjukan tingkat pendidikan di Desa Cirumput masih rendah, dan ini sangat berpengaruh pada tngkat ekonomi masyarakat yang belum sejahtera.

4.2       Profil Kelompok Tani
1.      Nama Kelompok:
Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi yang disingkat KTHR SW, Sekarwangi merupakan kepanjangan dari Semangat Karya mewangi.
2.      Alamat Sekretariat:
Jl. Ledeng Mata Air Cirumput, Blok Sumursari Rt.05/04 Desa Cirumput Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur Jawa Barat.
3.      Status Kelompok Tani:
Kelompok Swadaya Masyarakat
4.      Hari/Tanggal/Bulan/Tahun Berdiri:
Hari Sabtu, 01 Januari 2000
5.      Surat Keputusan (SK) Pendirian:
Pendirian Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi mendapat Surat Keputusan atau Pengesahan dari Kepala Desa Cirumput setelah 2 Tahun berdiri dibentuk, yaitu pada tanggal 01 Januarai 2002, dengan Surat Keputusan, Nomor : 01/SK/2002.
6.      Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP):
Nomor: 02.666.759.2-406.000,Surat Keterangan Terdaftar Nomor: PEM-04027/WPJ.09/KP.0603/2010,  terdaftar tanggal 09-09-2010 dengan Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) 01300- Kombinasi Pertanian atau Perkebunan dengan Peternakan (Mixed Farming).
7.      Susunan Dewan Pengurus:
Nama Ketua          : A. Makbul
Sekretaris              : D. Mulyadi
Bendahara             : Titing Kusmiati
Seksi Penyuluhan  : 1. Aman. S
                                2. Atip. S
Seksi Humas         : Abdul Patah
Seksi Peralatan      : Adin
8.      Tujuan Pendirian Kelompok Tani:
§  Menumbuhkan kepedulian dan kesadaran masyarakat untuk turut serta mendukung dalam upaya perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup secara partisipasi.
§  Menumbuhkan kemandirian masyarakat dalam pemanfaatansumber daya alam yang bertanggungjawab dan berkelanjutan.
§  Meningkatkan kesejahteraan dan tarap hidup masyarakat daerah penyangga melalui pengembangan potensi ekonomi lokal.
§  Menciptakan desa produktif unggulan yang mandiri.
9.      Pengalaman Kegiatan Kelompok Tani:
Sejak berdiri dari Tahun 2000 sampai saat ini, Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi memiliki pengalam dalam berbagai kegiatan, baik kegiatan dengan program pemerintah mauapaun dengan lembaga swasta, terutama dalam bidang pelestarian lingkungan. Untuk lebih jelasnya, berbagai kegiatan yang pernah dilakukan oleh kelompok tersebut dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini:

Tabel 4: Pengalaman Kegiatan Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi
No
Tahun
Kegiatan
1
2000-2001
Membuka lahan Tanah Garapan Desa seluas ±5 Ha untuk dijadikan kebun campuran (Agroforestry)
2
2001-2002
Memperluas kebun campuran Tanah Garapan menjadi ±35 Ha, yang ditanamai berbagai jenis tanaman tegakan dan tanaman peredu serta tanaman bawah tegakan, seperti: pohon Suren, Mene’e, Alpukat, Kopi, Pisang, Kapollaga dll.
3
2001-2003
Ikut melaksanakanproyek JIFRO dalam program Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial bersama Balai Pengelolaan DAS Citarum-Ciliwung dengan melakukan penanaman pohon pohon tegakan sebanyak ±17.500 pohon.
4
2003-2005
Membuat persemaian/pembibitan tanaman keras (Suren, Mene’e) secara swadaya untuk ditanam di Tanah Garapan.
5
2006-2008
Melakukan Sekolah Lapangan yang difasilitasi oleh USAID:
§  SL Penyadaran masyarakat untuk peduli lingkungan
§  SL Nursery/Pembibitan
§  SLTerpadu
§  SL Rehabilitasi Lahan
§  Melakukan Gebyar Tanam Pohon Se-Kecamatan Cugenang
§  Penanaman Sejuta Pohon Bersama Bupati Cianjur
6
2007
Pengembangan Usaha Ternak Domba yang difasilitasi oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Cianjur
7
2008
Pengembangan tanaman rumput ternak domba di lahan garapan(rumput Staria) yang difasilitasi oleh Dishutbun Kabupaten Cianjur.
8
2009
Pengembangan Tanaman Kopi Arabika dan Kapollaga di lahan Garapan
9
2010
Melaksanakan Program Kebun Bibit Rakyat (KBR) dengan menanam 20.000 pohon Suren, 20.000 pohon Albasia. Dan 10.000 pohon Kopi Arabika yang ditanam di lahan garapan dan lahan milik masyarakat sekitar Desa Cirumput.
Sumber: Profil Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi
Pengalaman kegiatan kelompok, jika dilihat dari tabel di atas lebih dominan pada perbaikan lingkungan, terutama penanaman pohon untuk pelestarian lingkungan di bidang konservasi.Beberapa kegiatan lainnya terlihat dalam bidang usahatani untuk peningkatan kesejahteraan anggota kelompok, salah satunya kegiatan usahatani dengan memanfaatkan lahan sebagai kebun campuran dan ternak domba.Hal ini terlihat adanya keinginan kuat dari kelompok tersebut untuk mengembangkan usahatani dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.Sehingga potensi yang ada bisa dimanfaatkan dengan baik tanpa harus merusak lingkungan.

4.3       Karakteristik Responden
Karakteristik responden anggota Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah karakteristik sosial yang meliputi umur responden, pendidikan responden, luas lahan responden danpengalaman lamanya bertaniresponden.

4.3.1        Umur Responden
Samadi (2006) menjelaskan bahwa pengelompokan umur pada manusia di bagi menjadi 3 kelompok umur, diantaranya:
1.      Umur 0-14 tahun, dinamakan usia muda (usia belum produktif)
2.      Umur 15 - 64 tahun, dinamakan usia dewasa (usia produktif atau usia kerja)
3.      Umur 65 tahun dan lebih, dinamakan usia tua (usia tidak produktif)
Karakteristik responden berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini:

Tabel 5: Distribusi Responden Berdasarkan Umur
No
Umur Responden (Tahun)
Jumlah (Orang)
Presentase (%)
1
Usia Produktif
62
88,57

2
Usia tidak Produktif
8
11,43

Jumlah
70
100,0

Suber: Data Primer diolah

Jika dilihat pada tabel distribusi responden berdasarkan umur, usia responden yang tergolong usia masih produktif terdapat 62 orang (88,57%), dari jumlah 70 orang responden, sedangkan usia responden yang tidak produktif terdapat 8 orang (11,43%). Hal ini menunjukan bahwa usia responden yang masih produktif adalah paling banyak yang berpotensi serta masih berkesempatan untuk mengembangkan usahataninya.

4.3.2        Pendidikan Responden
Karakteristik responden berdasarkan pendidikan dapat dilihat pada tabel 6 di bawah ini:

Tabel 6: Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan
No
Tingkat Pendidikan Formal (Tahun)
Jumlah (Orang)
Presentase (%)
1
0 – 6 (SD)
67
95,71

2
7 – 9 (SLTP)
3
4,29

Jumlah
70
100,00

Suber: Data Primer diolah

Jika dilihat pada tabel distribusi responden berdasarkan pendidikan, jenjang tingkat pendidikan formal antara 0 – 6 tahun atau Sekolah Dasar (SD) jumlahnya ada 67 orang (95,71%) dari jumlah total 70 orang, sedangkan tingkat pendidikan formal antara 7 – 9 tahun atau Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) ada 3 orang (4,29%). Melihat hal tersebut jumlah tingkat pendidikan responden mayoritas berpendidikan SD sangat banyak, artinya tingkat pendidikan petani masih rendah yang sangat berpengaruh terhadap kurangnya pengetahuan, sehingga masih banyak anggota petani yang masih belum mampu mengembangkan usahataninya ke arah yang lebih maju yang berdampak pada tingkat kesejahteraaan petani masih rendah..


4.3.3        Luas Lahan Responden
Karakteristik responden berdasarkan luas lahan dapat dilihat pada tabel 7 di bawah ini:

Tabel 7: Distribusi Responden Berdasarkan Luas Lahan
No
Luas Lahan (Ha)
Jumlah (Orang)
Presentase (%)
1
0,20
-
0,92
60
85,71

2
0,93
-
1,63
7
10,0

3
1,64
-
2,35
1
1,43

4
2,36
-
3,07
1
1,43

5
3,08
-
3,79
0
0

6
3,80
-
4,50
0
0

7
4,51
1
1,43

Jumlah
70
100,00

Suber: Data Primer diolah

Jika dilihat pada tabel distribusi responden berdasarkan luas lahan, petani yang menggaraplahan antara 0,20 ha – 0.92 ha atau kurang dari 1 ha jumlahnya ada 60 orang (85,71%) dari jumlah responden 70 orang, sedangkan yang menggarap lahan antara 0,93 – 1,63 ha ada 7 orang (10,0%). dan yang menggarap lahan di atas 1,63 ha ada 3 orang.
Petani yang menggarap lahan kurang dari 1 ha paling banyak, hal ini menunjukan bahwa luas lahan yang dekelola oleh masing-masing petani sangat terbatas. Sehingga petani harus mampu mengelola lahan seefektif mungkin untuk menghasilkan lahan yang produktif dengan tidak merubah fungsi lahan sebagai tanah garapan di lahan hutan.

4.3.4        Pengalaman Bertani Responden
Karakteristik responden berdasarkan pengalaman lamanya bertani dapat dilihat pada tabel 8 di bawah ini:
Tabel 8: Distribusi Responden Berdasarkan Pengalaman Bertani
No
Pengalaman Usahatani (Tahun)
Jumlah (Orang)
Presentase (%)
1
2
-
6
33
47,14

2
7
-
11
21
30,00

3
12
-
16
6
8,57

4
17
-
21
7
10,00

5
22
-
26
1
1,43

6
27
-
31
1
1,43

7
≥ 32
1
1,43

Jumlah
70
100,00

Suber: Data Primer diolah

Jika dilihat dari tabel distribusi responden berdasarkan pengalaman bertani, pengalaman responden yang paling sedikit 2 tahun dan paling tinggi 35 tahun, pengalaman melakukan usahatani sejalan dengan umur responden, semakin tua umur responden semakin lama pengalaman usahataninya.
Dari jumlah petani 70 orang yang mempunyai pengalaman usahatani antara 2 - 6 tahun adalah jumlah yang paling banyak 33 orang (47,14%) dan berpotensi untuk terus mengembangkan usahataninya dengan belajar pada petani yang sudah berpengalaman cukup lama.

4.4      Klasifikasi Usahatani Berdasarkan Pola yang dilakukan di Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi

Sebagaimana diketahui pada profil kelompok, bahwa Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi sudah memiliki NPWP dengan Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) Kombinasi Pertanian atau Perkebunan dengan Peternakan (Mixed Farming).
Berdasarkan hasil kajian dilapangan bahwa kelompok tani tersebut mempunyai anggota 70 orang dan melakukan usahatani di lahan kering. Pola usahatani yang dilakukan oleh masing-masing petani adalah sebagai berikut:

4.4.1        Pola Usahatani Khusus
Dari hasil penelitian di lapangan, terdapat anggota Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi yang melakukan satu cabang usahatani saja yaitu sebagai berikut:
1.      Usahatani Ternak Domba
Usahatani ternakdomba di Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi terdapat 15 orangpetani dengan rata-ratajumlah domba yang dibudidayakan antara 5 sampai 15 ekor.Setiap orang yang melakukan usahatani ternak domba tersebut membudidayakannya dengan model pembesaran dan perkembangbiakkan.Hasil usahatani ternak domba dijual rata-rata satu kali dalam satu tahun.
Untuk pemberian pakan ternak domba, rata-rata diberi pakan rumput liar yang diambil sendiri dari kawasan Perkebunan Teh yang ada di sekitar  permukiman tempat tinggal mereka. Sebagai alternatif pakan tambahan ternak, petani menanam rumput staria (khusus pakan ternak domba) di lahan garapannya masing-masing.
Kandang domba dibuat secara khusus dari kayu dilahan sekitar rumahnya dengan luas rata-rata 20 - 50 m².Ukuran kandang yang dibuat disesuaikan dengan kapasitas domba yang dipelihara.
Domba jantan yang dipelihara, rata-rata dari usia 4 bulan dan dijual hingga usia mencapai satu tahun lebih, sedangkan domba betina yang sudah dewasa dibudidayakan untuk dikembangbiakkan yang dapat melahirkan setiap 6-8 bulan satu kali dari 1 ekor.

 






Gambar 4: Pola Usahatani Khusus (Usahatani Ternak Domba)


2.      Pembibitan Tanaman Kayu-Kayuan
Usahatani pembibitan tanaman kayu-kayuan atau dengan istilah persemaian dilakukan oleh salah seorang anggota Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi sejak Tahun 2003.Jenis pembibitan yang disemai diantaranya bibit kayu-kayuan seperti Albasia, Gamelina dan Suren.
Jumlah produksi pembibitan rata-rata 10.000 sampai 20.000 bibit,yang ditanam dalam polybag.Luas lahan untuk pembibitan tersebut antara 1000 m² -3000 m²serta memiliki ketersediaan air yang cukup dan lahan yang datar.
Dari mulai disemai sampai siap untuk ditanamdilapangan atau dijual, rata-rata 4 bulan dengan rata-rata tinggi tanaman untuk semua jenis kayu-kayuan antara 50 - 100 cm.

 





Gambar 5: Pola Usahatani Khusus (Usahatani Persemaian Kayu-Kayuan:
Albasia, Suren, Gamelina)


3.      Usahatani Labuh Siam
Usahatani labuh siamyang dilakukan oleh anggota Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi dilakukan secara khusus pada sebidang tanah yang tidak dicampur dengan usahatani tanaman lainnya. Labuh siamditanam dengan merambat pada sarang bambu (paranggong) dengan tinggi 2 meter dari permukaan tanah.Usia tanaman labuh siam antara 1,5-2 tahun dengan pemeliharaan yang intensif.  Panen labuh siamdilakukan 1 atau 2 kali dalam 1 Minggu.
Usahatani tersebut dilakukan oleh 10 orang anggota kelompok tani yang ditanam pada luas lahan rata-rata 200 m² - 2000 m².
 






Gambar6: Pola Usahatani Khusus (Usahatani Labuh Siam)

4.      Usahatani Tembakau
Terdapat 10 orang  petani anggota Kelompok TaniHutan Rakyat Sekarwangi yang melakukan usahatani Tembakau yang sudah mereka lakukan lebih dari 5 Tahun. Usahatani tembakau tersebut dilakukan dari mulai menanam hingga pengolahan hasil tanaman, sehingga perlu keahlian khusus dalam mengolah daun Tembakau untuk bisa dijual ke pasaran.
Luas lahan untuk usahatani tembakau yang dimiliki oleh petani sangat bervariatif, dari luas lahan 1000 m² - 5000 m². Penanaman Tembakau yang dilakukan oleh petanai  setiap tahunnya rata-rata dibulan Februari, Maret dan April. Kemudian bisa dipanen bulan Juli, Agustus dan September.

 





Gamabr 7: Pola Usahatani Khusus (Usahatani Tembakau)

5.      Usahatani Anyaman Bilik
Usahatani anyaman bilik dilakukan oleh 1 orang anggota Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi yang mampu memproduksi rata-rata 2 lembar anyamanbilik dengan ukuran 2 x 3 meter setiap harinya. Kemampuan produksi dalam 1 bulan hampir 60 lembar anyaman bilik.
Bahan dasar dari anyaman bilik tersebut yaitu pohon bambu yang dibeli dari petani lainnya yang menanam bambu dilahannya masing-masing atau dari luar anggota yang memiliki kebun khususbambu.Bahkan bila kekurangan bahan bambu, pengrajin usahatani anyaman bilik membeli bambu dari luar desa.

 






Gambar 8: Pola Usahatani Khusus (Usahatani Anyaman Bilik)

4.4.2        Pola Usahatani Campuran
Dari hasil penelitian di lapangan, terdapat anggota Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi yang mengusahakan beberapa cabang usahatani secara bersama-sama dalam sebidang lahan tanpa batas yang tegas (pola usahatani campuran).
Adapun beberapa jenis usahatani campuran yang dilakukan oleh anggota kelompok tani tersebut diantaranya sebagai berikut:

1.      Pisangdengan Teh
Pada luasan lahan yang sama, tanaman pisang yang ditanam dengan jarak 3 m x 3 m dan di bawah pohon pisang ditanami teh dengan jarak 1 m x 1 m, kapasitas jumlah tanaman dari 2 jenis tersebut disesuaikan dengan luas lahan yang ada.Kedua jenis tanaman tersebut diusahakan secara bersama-sama, tetapi memiliki waktu dan cara panen yang berbeda.
 







Gambar 9: Pola Usahatani Campuran (Usahatani Pisang dengan Teh pada Luasan Lahan yang Sama)






2.      Pisang dengan Wortol
Usahatani pisang dan usahatani wortol dilakukan secara bersama-sama pada luas lahan yang sama.Pisang ditanam dengan jarak 3 m x 3 m, sedangkan wortol ditanam dengan cara dibedeng-bedeng di bawah tanaman pisang.

 





Gambar 10: Pola Usahatani Campuran (Usahatani Pisang dengan Wortol pada Luasan Lahan yang Sama)

3.      Singkong dengan Pisang
Usahatani singkong dengan pisang dilakukan oleh anggota Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi pada luas lahan antara 1000 m2- 300 m2.Jarak tanam kedua jenis tanaman tersebut diatur tanpa harus mengganggu antara tanaman satu dengan yang lainnya.

 






Gambar11: Pola Usahatani Campuran (Usahatani Singkong dengan Pisang
pada Luasan Lahan yang Sama)
4.      Kayu Albasia dengan Sayuran
Pada jenis usahatani dengan pola tidak khusus yang dilakukan oleh anggota Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi yang lainnya yaitu usahatani kayu Albasia dengan sayuran semusim yang ditanam pada luas lahan yang sama. Jenis sayuran yang ditanam disesuaikan dengan musim yang cocok dan memiliki jangka waktu panen yang pendek, seperti kacang-kacangan, Cabe, wortol dll.Penanaman jenis sayuran pada lahan tersebut ditanam dengan cara di bedeng-bedeng, sedangkan kayu Albasia ditanam dengan jarak tanam 4 m x 4 m dan dapat dipanen dalam jangka waktu minimal 5 tahun.
Jarak tanam antara jenis tanaman yang satu dengan yang lainnya dibuat dengan batas yang teratur, sehingga pemeliharaanya sangat mudah serta kapasitas tanaman pada lahan tersebut dapat dihitung dengan mudah.

 





Gambar 12: Pola Usahatani Campuran (Usahatani Kayu Albasia dengan SayuranSemusim pada Luasan Lahan yang Sama)


5.      Kebun Campuran
Martini.E,dkk (2010) menjelaskan bahwa kebun campuran bisa diartikan dalam berbagai arti tergantung pada orang yang menerjemahkannya.Kata ‘campuran’ yang terbubuhi di belakang kata ‘kebun’ bisa menjadi berbeda-beda tergantung pada jenis dominan yang terpadu di dalamnya.Secara sederhana, kebun campuran berarti kebun yang ditanami berbagai jenis tanaman dengan minimal satu jenis tanaman berkayu. Beberapa tanaman jenis lain, berupa tanaman tahunan dan atau tanaman setahun yang tumbuh sendiri maupun ditanam, dibiarkan hidup di kebun campuran selama tidak mengganggu tanaman pokok.
Kebun campuran yang umumnya dikembangkan dalam bentuk agroforestry  dipandang mempunyai kemampuan dalam memenuhi fungsi ekologi, ekonomi dan sosio kultural masyarakat (Nair, 1993).
Usahattani ini dikenal dengan Agroforesty atau kebun campuran, berbagai jenis tanaman kehutanan, perkebunan dan tanaman pertanian diusahakan dalam satu luasan lahan yang sama antara 2000 m2 - 20.000 m2,  kapasitas tanaman disesuaikan dengan luas garapan masing-masing petani.
Adapun berbagai jenis tanaman pola usahatani campuran dapat dilihat pada tabel 9 berikut ini:









Tabel 9: Jenis Tanaman Pola Usahatani Campuran
No
Jenis Tanaman
Tanaman Tegakan/Keras
Tanaman Bawah Tegakan
A
Kayu-kayuan:


1.      Suren
1.      Pisang

2.      Mene’e
2.      Kapollaga

3.      Albasia
3.      Rumput Staria (Pakan ternak)

4.      Gamelina
4.      Empon-empon (Kunyit, lengkuas)

5.      Pinus
5.      Kacang-kacangan

6.      Bambu
6.      Umbi-umbian

7.      Puspa
7.      Sayuran semusim

8.      Kiamis


9.      Mahoni




B
Buah-Buahan:


1.      Alpukat


2.      Nangka


3.      Durian


4.      Kopi Arabika


5.      Jambu Batu


6.      Jeruk


7.      Pepaya

Sumber: Data Primer

Setiap tanaman yang ditanam sebagaimana yang tercantum pada tabel di atas menghasilkan beragam penghasilan, ada yang setiap minggu seperti buah pisang danpepaya ada yang semusim seperti sayuran kol, kacim, kacang-kacangan dan ada pula tanaman tahunan yang dipanen setahun 1 kali seperti buah kopi dan alpukat
Tanaman pokok yang paling dominan yang menunjang pemenuhan kebutuhan ekonomi dari usahatani kebun campuran tersebut di atas diantaranya buah pisang yang bisa dipanen setiap minggu, kapollaga yang bisa dipanen 2 bulan 1 kali, buah kopi dan buah alpukat yang bisa dipanen setiap tahunnya, serta pohon bambu yang bisa dijual batangan.Untuk tanaman kayu-kayuan tidak ditebang, karena lebih memperhatikan kaidah konservasi (perlindungan, pemanfaatan dan pengawetan), sehingga kelestarian alam tetap terjaga.Hanya saja untuk tanaman kayu yang diusahakan ditanam pada areal tertentu seperti lahan pribadi.
Jarak penanaman antara tanaman satu dengan yang lainnya ditanam secara acak (tidak teratur) dan tidak memiliki batas yang jelas, sehingga keseragaman jenis tanaman setiap lahan anggota kelompok  tani tersebut berbeda-beda.

 






Gambar 13: Pola Usahatani Campuran (Usahatani Model Kebun Campuran/Agroforestry)

Sebagai gambaran bentuk kombinasi usahaatanikebuncampuranndapat dilihat pada gambar 12 di bawaha ini:

Satu Luasan Lahan
yang Sama
Penanaman Kayu-kayuan
Penanaman Buah-Buahan
Penanaman Sayuran Semusim
§  Jarak penanamantidak teratur
§  Jenis tanaman sesuai keinginan petani
§  Luas lahan setiap petani bervariatif (0, 2 Ha - 2 Ha)




Keterangan:
                        Menyatakan Garis Hubungan
Gambar 14: Kombinasi Usahaatani Kebun Campuran
Dari hasil penelitian di lapangan, klasifikasi usahatani berdasarkan pola usahatani khusus yang dilakukan oleh Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi, dapat dikelompokan sebagai berikut:
1.      Peternakan, jenis peternakan yang diusahakan yaitu jenis ternak domba.
2.      Budidaya tanaman, jenis yang diusahakan diantaranya: persemaian jenis tanaman kayu-kayuan (Albasia, Suren, Mene’e), budidaya labuh siam dan budidaya tembakau.
3.      Kerajinan tangan, jenis kerajinan yang diusahakan yaitu anyaman bilik.

Pola usahatani khusus yang dilakukan tersebut, kelebihannya petani lebih fokus untuk mencapai hasil produksi yang maksimal, karena setiap petani yang melakukan pola usahatani khusus pengelolaannya lebih intensif dari mulai perencanaan hingga pengelolaan pasca panen.Tetapi kelemahan dari pola usahatani khusus tersebut pemanfaatan sumber daya belum optimal.
Untuk pola usahatani campuran, berdasarkan penelitian di lapangan pemanfaatansumber daya cukup optimal, tetapi hasil produksi belum tentu maksimal, karena penanaman sama-sama ditanam pada luasan lahan yang sama, sehingga kebutuhan hara untuk tanaman akan saling berebut antara jenis tanaman yang satu dengan jenis tanaman yang lainnya.
Pola Usahatani campuran merupakan salah satu diversifikasi usahatani, yaitu melakukan usahatani yang tidak tergantung pada satu jenis komoditas ataupun kegiatan, tetapi suatu multi usaha (Guhardja Suprihatin, et al. 1993).


4.5      Klasifikasi Usahatani Berdasarkan Tipe yang Ada di Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi

Berdasarkan hasil kajian di lapangan, tipe usahatani yang ada di Kelompok Tani Hutan Rakyata Sekarwangi Desa Cirumput Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur, terdapat 2 jenis, yakni peternakan dan tanaman.Sedangkan jenis tanaman itu sendri  dibagi menjadi beberapa jenis tanaman seperti tanaman hortikultura, perkebunan dan kehutanan. Tipe dari masing-masing jenis tersebut adalah sebagai berikut:

4.5.1        Tipe Usahatani Jenis Ternak
Tipe usahatani dari jenis peternakan yang diusahakan oleh anggota Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi, yaitu usahatani yang menghasilkan komoditas domba.Dari usahatani domba, setiap tahunnya anggota kelompok tani mampu menjual ±100 ekor domba dari jumlah total keseluruhan dengan rata-rata petani memiliki domba antara 5 - 15 ekor per orang. Domba yang dijual setiap tahunnya rata-rata domba jantan dengan harga berkisar Rp.1.200.000,- (Satu Juta Dua Ratus Ribu Rupiah) per ekor.
Usahatani domba yang ada di kelompok tani tersebut bukan domba pedaging, tetapi domba untuk kebutuhan qurban atau akikah yang dijual satu tahun satu kali. Permintaan pasar dari komoditas domba tersebut rata-rata untuk masyarakat kota Cianjur, dan selebihnya dijual untuk permintaan ke luarkota, seperti Bogor dan Jakarta.



4.5.2        Tipe Usahatani Jenis TanamanHortikultura
Tipe usahatani jenis tanaman hortikulturayang dihasilkan oleh anggota Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi, diantaranya sebagai berikut:

1.      Usahatani Labuh Siam
Labuh siam merupakan salah satu komoditas yang dihasilkan oleh Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi.Dari seluruh anggota yang melakukan usahatani tersebut, setiap tahunnyamenghasilkan ±81.000 Kg (±8,1 ton) dari luas lahan total ±5000 m2.

2.      Usahatani Pisang
Pisang merupakan komoditas yang paling banyak dihasilkan di Kelompok Tani Hutan Rakyat sekarwangi. Berdasrkan hasil kajian di lapangan, dari seluruh anggota kelompok tani tersebut setiap tahunnya menghasilkan buah pisang ±52.500 Kg (±52,5 ton).

3.      Usahatani Alpukat
Buah Alpukat merupkan komoditas yang dihasilkan oleh anggota Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi dengan rata-rata produksi setiap tahunnya  dari seluruh anggota yang memiliki pohon Alpukat ±30.000 Kg (±30 ton).



4.      Usahatani Sayuran (Wortol, Tomat, Kacim, dll)
Usahatani sayuran, seperti wortol, tomat, kacim dan lain sebagaianya merupakan komoditas pertanian yang secara rutin dilakukan oleh sebagian anggota Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi. Kapasitas produksi dari masing-masing jenis sayuran tersebut dihitung berdasarkan luas lahan yang ditanami per satu kali musim tanam.

4.5.3        Tipe Usahatani Jenis Tanaman Perkebunan
Tipe usahatani jenis tanaman perkebunan yang dihasilkan oleh anggota Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi, diantaranya sebagai berikut:

1.      Usahatani Tembakau
Tembakau merupakan bagian dari komoditas yang dihasilkan oleh anggota Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi yang ditanam pada total luas lahan ±10.000 m2  dengan hasil produksi ±10.000 Kg (±1 ton) setiap tahunya per 1 musim tanam.

2.      Usahatani Teh
Usahatani teh merupakan usahatani yang sudah lama dijalankan oleh sebagian anggota Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi. Teh ditanam dilahan milik pribadi masing-masing dengan jumlah total luas lahan ±10.000 m2  (±1 ha).Dari jumlah keseluruhan yang menanam teh tersebut.Produksi pucuk teh yang dihasilkan setiap tahunnya ±1000 Kg Per hektar per tahun (±1 ton/ha/tahun).
4.5.4        Tipe Usahatani Jenis Tanaman Kehutanan
Jenis tanaman kehutanan yang diusahakan oleh Kelompok Tani Hutan Rakyat Sekarwangi, terdapat beberapa jenis sepeerti kayu Suren (Toona Surenny) dan kayu Mene’e (Maysopsisemini).Tanaman tersebut tidak menjadi tanaman produksi utama, karena sebagian besar ditanam pada lahan konservasi, tetapi pada lahan-lahan tertentu (lahan pribadi) ditebang sesuai kebutuhan setiap anggota petani.

Berdasarkan hasil kajian di lapangan, beberapa tipe usahatani yang ada di Kelompok Tani Hutan Rakyat sekarwangi menunjukkan adanya diversifikasi pertanian, yaitu penganekaragaman jenis usahatani atau tanaman pertanianuntuk menghindari ketergantungan pada salah satu hasil pertanian. 
Hal tersebut terlihat dari beragamnya jenis tanaman pada suatu lahan, baik tanaman hortikultura, perkebunan bahkan tanaman kehutanan.Serta selain berusahatani, petani juga beternak domba.
Kelebihan dengan adanya berbagai tipe usahatani, peluang pasar tidak tergantung pada satu jenis tipe usahatani yang dilakukan, serta musimnya bisa berbeda-beda sehingga tetap menghasilkan jenis produk yang dapat dipasarkan.
Kelemahannya, petani sangat terbatas pada lahan yang sempit, sehingga sulit mempebesar kapasitas produksi dari setiap tipe usahatani yang dilakukan.